Zakat Fitrah di Perantauan atau Di Tempat Asal?

Donasi Wakaf

Bismillah…

Musim pandemi membuat banyak saudara kita yang tak bisa mudik ke tempat asal. Akhirnya mereka harus bersabar menahan rindu dengan keluarga dan berlebaran di tempat perantauan. Nah, mungkin sebagian kita masih bingung, zakat fitrah di rumah tempat asal atau di perantauan?

Ini penjelasannya teman-teman…

Zakat fitrah ditunaikan di tempat kita berhari raya. Jadi kalau kita hari raya di perantauan, maka zakat fitrah ditunaikan di tempat perantauan. Tidak di tempat asal. Hal ini karena dua alasan berikut:

Pertama, hadis dari sahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu’anhuma– beliau mengabarkan,

فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو أو الرفث وطعمة للمساكين ، من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات

“Rasulullah ﷺ telah mewajibkan Zakat Fitri sebagai pembersih orang yang puasa dari perbuatan sia-sia dan dosa, dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum sholat ied, maka itulah zakat Fitri yang diterima, namun siapa yang menunaikannya setelah sholat, maka teranggap sebagai sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Para ulama menyimpulkan dari hadis ini bahwa, zakat fitri adalah ibadah yang berkaitan dengan badan, bukan berkaitan dengan harta.

Disimpulkan demikian karena zakat fitri berfungsi mensucikan badan orang yang puasa dari hal sia-sia dan dosa, bukan mensucikan harta sebagaimana zakat maal (harta).

Mengingat zakat fitri adalah ibadah yang berkaitan dengan badan, maka tentang tempat penunaiannya adalah, dimana badan kita berada saat kewajiban zakat titri itu tiba.

Kapan waktu wajib menunaikan zakat fitrah? Yaitu dimulai malam hari raya idul fitri.

Sebagaimana keterangan dari Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berikut,

فأما زكاة الفطر فإنه يخرجها في البلد الذي وجبت عليه فيه ، سواء كان ماله فيه أو لم يكن

Zakat fitri, dikeluarkan di tempat dimana seorang menemui kewajiban zakat fitri, baik hartanya di tempat tersebut atau di tempat lain. (Al-Mughni 4/134)

“…baik hartanya di tempat tersebut atau di tempat lain” maksudnya, zakat fitri tidak sama dengan zakat Mal :
– Zakat fitri berkaitan dengan badan.
– Sementara Zakat Mal berkaitan dengan harta. Sehingga tempat penunaiannya adalah dimana harta yang kita zakat itu berada.

Salah seorang ulama senior dalam madzhab Syafi’i, Imam Nawawi rahimahullah juga memberikan penjelasan yang sama,

إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر في بلد ، وماله فيه وجب صرفها فيه…. وإن كان في بلد وماله في بلد آخر، فأيهما معتبر؟ فيه وجهان أحدهما بلد المال كزكاة المال، وأصحهما بلد رب المال

“Jika saat tibanya kewajiban zakat fitri seorang berada di sebuah daerah, demikian hartanya juga berada di daerah yang sama, maka dia wajib menunaikan zakat Fitrinya di daerah tersebut….

Namun jika dia berada di suatu daerah sementara harta bendanya di daerah lain, mana yang menjadi pilihan tempat pengeluaran Zakat Fitri? Ada dua pendapat dalam Mazhab Syafi’i, satu menyatakan ditunaikan di daerah dimana (mayoritas, pent) harta seorang berada, sebagaimana zakat maal.

Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat kedua : zakat fitri ditunaikan di tempat dimana seorang berada (walaupun hartanya di tempat lain, pent). (Al-Majmu’ Syarhul Muhazdzab 6/217-218)

Kedua, dari penamaaan zakat ini, kita bisa mengetahui dimana zakat fitrah di tunaikan. Zakat Fitri, artinya zakat yang ditunaikan di hari fitri. Fitri artinya hari dimana kita mulai tidak puasa, yaitu hari raya idul fitri.

Para ulama menyebut ini dengan istilah,

إضافة الشيء إلى سببه

“Penisbatan sesuatu kepada sebabnya.”

Maksudnya, hari raya idul fitri adalah sebab kewajiban penunaian zakat fitrah.

Atau dengan ungkapan semakna,

إضافة الشيء إلى وقته

“Penisbatan sesuatu kepada waktunya.”

Artinya hari raya idul fitri adalah waktu pengeluaran zakat. Karena memang idealnya zakat fitrah ditunaikan di pagi hari idul fitri, sebelum sholat id. Dibolehkan sehari atau dua hari sebelum hari raya, sebagai keringanan (rukhsoh) dari syariat kita.

Keterangan ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,

فهنا زكاة الفطر أضيفت إلى الفطر لأن الفطر سببها ؛ ولأن الفطر وقتها ، ومن المعلوم أن الفطر من رمضان لا يكون إلا في آخر يوم من رمضان ، فلا يجوز دفع زكاة الفطر إلا إذا غابت الشمس من آخر يوم من رمضان ، إلا أنه رُخص أن تُدفع قبل الفطر بيوم أو يومين رخصة فقط ، وإلا فالوقت حقيقة إنما يكون بعد غروب الشمس من آخر يوم من رمضان ؛ لأنه الوقت الذي يتحقق به الفطر من رمضان ، ولهذا نقول : الأفضل أن تؤدى صباح العيد إذا أمكن

“Di sini, zakat fitri dinisbatkan kepada “fitri” (hari idul fitri, yang artinya hari mulai boleh tidak puasa/berbuka, pent). Karena fitri adalah sebabnya, karena fitri adalah waktunya. Kita ketahui bersama bahwa fitri dari puasa ramadhan, tidak terjadi kecuali di hari akhir ramadhan.

Oleh karenanya, tidak boleh menunaikan zakat fitri kecuali setelah matahari terbenam di hari terakhir ramadhan. Kecuali pertimbangan keringan (rukhsoh), zakat fitri boleh dibayarkan sehari atau dua hari sebelum hari idul fitri, ini hanya sebagai rukhsoh saja.

Kalau bukan karena adanya rukhsoh, maka pada asalnya waktu penunaian zakat fitri adalah setelah terbenamnya matahari di hari terakhir ramadhan. Karena sejak hari itulah fitri ramadhan (boleh kembali tidak puasa) terjadi. Oleh karenanya kami sarankan, “Lebih afdhol zakat fitri itu ditunaikan di pagi hari idul fitri, jika memungkinkan.” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 18/267-268 soal nomor 180)

Kantor Pos Yogyakarta 0 Km, 25 Ramadhan 1441 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here