Tetap Bahagia Saat Sakit

Bismillahirrahmanirrahim

Tiada gading yang tak retak. Itulah ungkapan pepatah yang sering kita dengar. Sebagaimana gading, tiada manusia yang tidak pernah sakit. Saya, Anda, dia, mereka, siapapun orangnya, pasti pernah merasakan sakit. Sebagai gawan bayi bagi setiap yang terlahir di muka bumi. Karena itu, sakit bukanlah masalah terbesar bagi kita, sebab semua manusia mengalaminya. Namun yang lebih penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa menjadi hamba yang baik ketika sakit. Sakit itu pasti, sementara bagaimana cara melakukan yang terbaik ketika sakit, itu kembali kepada pilihan kita.

Kita bisa mendapatkan banyak pahala ketika sakit. Sebaliknya, sakit yang kita derita juga bisa menjadi sebab munculnya perbuatan dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله الشخط

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha de ngan musibah itu maka dia akan men dapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Mari kita perhatikan hadis di atas. Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut.

Namun di sana ada dua sikap manusia yang berbeda :

– Ada yang memahami musibah itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan.

Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala bagi nya. Dia menjaga suasana hatinya dengan selalu ber-husnudzan kepada Allah. Sehingga sama sekali dia tidak merasa didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

– Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah.

Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan. Dia mempertanyakan, meng apa dia sakit, sementara orang lain tidak sakit. Mengapa dia tidak bisa mendapatkan kenik matan hidup, sementara tetangganya bisa mendapatkan banyak kenikmatan. Dia marah dan tidak sabar dengan musibahnya. Sebagai hukumannya, Allah justru murka kepadanya.

Pembaca yang budiman. Satu pertanyaan yang patut kita renungkan, ketika orang itu marah dengan musibah yang diderita nya :

“apakah dengan marahnya itu akan bisa menghilangkan musibahnya?”

“Ketika sakit itu merasa marah dengan musibah sakit nya, apakah dengan marah itu dia bisa cepat mendapatkan kesembuhan?”

Kita sangat yakin, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang marah dan tidak ridha dengan sakit yang dideritanya, akan semakin memperparah sakitnya. Dia sakit fisiknya dan juga sakit perasaannya. Dia sakit dua kali, sakit lahir dan batin.

Abu Said al-Khudri pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Ketika Abu Said meletakkan tangannya ke badan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ternyata panasnya luar biasa. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إنا كذلك يشدد علينا البلاء ، ويضاعف لنا الأجر

“Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”

Abu Said-pun bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujian nya?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

الأنبياء ثم العلماء ثم الصالحون كان أحدهم يبتلى بالفقر حتى ما يجد إلا العباءة يلبسها ويبتلى بالقمل حتى يقتله ولأحدهم أشد فرحا بالبلاء من أحدكم بالعطاء

“Para nabi, kemudian para ulama, kemu dian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Ada juga yang diuji dengan kutu badan dan rambut nya, sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideri tanya, melebihi kegembiraan kalian ke tika mendapat rezeki.”

(HR. Al-Baihaqi dalam al-Kubro 6771, Abu Ya’la dalam musnadnya 1045, Hakim dalam al-Mustadrak 119, dan dishahihkan al-Albani).

Seperti itulah yang diajarkan Nabi shal lallahu alaihi wa sallam dan shaleh. orang Mereka bisa berbahagia ketika sakit. Mereka lebih gembira dengan ujian yang dideritan ya, melebihi kegembiraan yang dialami oleh orang yang baru saja mendapatkan banyak harta. Kegembiraan karena keyakinan bahwa sakit yang dia derita akan menjadi sumber pahala baginya.

Suatu ketika, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu datang ke Mekah. Beliau sudah menginjak usia tua dan matanya buta.

Melihat kedatangan Sa’ad, masyarakat pada berdatangan dan menyambutnya. Mereka berkeyakinan doa Sa’ad sangat mustajab, sep erti yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Satu demi satu orang meminta didoakan Sa’ad.

Sampai akhirnya datang seorang pemu yang bernama Abdullah bin Saib. Beliau da memperkenalkan diri kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah berkenalan, Abdullah bertanya keheranan, “Wahai paman, Anda mendoakan banyak orang (dan itu mustajab). Mengapa Anda tidak berdoa meminta kebaikan un tuk diri Anda sendiri, sehingga Allah akan mengembalikan penglihatan Anda?”

Mendengar uacapan pemuda ini, Sa’ad tersenyum, kemudian mengatakan,

Wahai anakku, (menerima) takdir Allah untukku, itu lebih baik dari pada mataku.” (Qut al-Qulub, 1/435).

Insya Allah, kita-pun bisa melakukann nya. Berbahagia ketika mendapat musibah. Berbahagia ketika sakit. Tinggal saatnya kita mulai berlatih untuk sabar dan ridha dengan semua ketetapan Sang Kuasa.

Waffaqokumullah…


Tulisan ini dikutip dari buku berjudul “Untukmu yang Sedang Sakit” karya Ustadz Ammi Nur Baits -hafidzohullah-, diterbitkan oleh : Muamalah Publishing.

Artikel : Thehumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here