Benarkah Langit Kiblatnya Doa, Sebagaimana Ka’bah Kiblatnya Shalat?

Donasi Wakaf

Bismillah….

Sebenarnya, argument langit adalah kiblatnya doa, sebagaimana kiblatnya sholat, adalah argument yang sangat populer dipegang oleh orang-orang yang tidak meyakini sifat maha tinggi (Al – ‘Uluw) bagi Allah yang maha mulia, seperti kaum Asya’iroh. Sebenarnya mereka hanya mewarisi argumen ini dari kakak pendahulunya, yaitu kaum Jahmiyah.

Ketika mereka ditanya, fitrah manusia menunjukkan, bahwa Tuhan itu di atas. Maka bisa dipastikan, argument inilah yang menjadi andalan untuk membantah.

Adapun ahlussunah, mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat maha tinggi (Al – ‘Uluw) pada segala sisi :
Tinggi DzatNya.
Allah berada di atas. Namun bukan artinya Allah diliputi oleh langit. Allah berada di atas langit.
Tinggi kekuatan / kekuasaanNya
Artinya Allah maha kuat tak ada yang bisa mengalahkan.
Dan tinggi kedudukanNya.
Artinya seluruh sifat Allah maha sempurna.

Benarkah langit adalah kiblatnya doa?

Ada beberapa argument yang menunjukkan bahwa ungkapan langit adalah kiblatnya doa, tidak benar :

Pertama, ada ribuan ayat dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan keberadaan Allah di atas.

Sebagaimana keterangan dari Syekh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berikut,

قد وصف الله تعالى نفسه في كتابه وعلى لسان رسوله ” بالعلو والاستواء على العرش والفوقية ” في كتابه في آيات كثيرة حتى قال بعض أكابر أصحاب الشافعي : في القرآن ” ألف دليل ” أو أزيد : تدل على أن الله تعالى عال على الخلق وأنه فوق عباده .

“Di Al-Qur’an maupun melalui lisan Rasul-Nya, Allah mensifati diriNya dengan sifat maha tinggi, istiwa’ di atas Arsy dan di atas. Sampai sebagian ulama senior di Mazhab Syafi’i menyatakan, bahwa ada seribu ayat di dalam Al Qur’an atau bahkan lebih, yang menunjukkan Allah berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya! Sebagian mereka mengatakan,a tiga ratus dalil yang menunjukkan hal ini.” (Majmu’ Fatawa, jilid 5, hal. 79)

Apakah semuanya akan ditakwil?! Sama saja mengubur hakikat seribuan ayat tersebut! Capek pikiran hanya untuk mentakwil ribuan ayat. Yang lebih lelah lagi, harus membohongi fitrah atau naluri.

Yang paling mengenali Allah adalah diri Allah sendiri. Imani saja apadanya ribuan ayat itu. Biarlah Allah yang maha mulia mengenalkan diri Nya apadanya. Tak perlu mempersulit diri mencari-cari takwilnya. Sudah pusing pikiran dibuatnya, ternyata yang didapat hampa, menyimpang dari ajaran kebenaran, mengingkari seribuan ayat. Agama ini mudah; tidak berbelit, jangan anda persulit.

Kedua, tak ada satupun riwayat dari para sahabat, yang menyatakan bahwa langit adalah kiblatnya doa. Padahal masalah seperti ini sangat dasar dan prinsip. Yang mustahil tidak diketahui seorangpun sahabat, yang dikenal sebagai manusia yang paling mengilmui tentang Allah setelah Rasul-Nya.

Imam Malik bin Anas radhiyallahu’anhu,

فما لم يكن يومئذ دينا، لا يكون اليوم دينا

“Ajaran yang tidak menjadi bagian dari agama di masa sahabat, maka di hari ini juga bukan termasuk dari ajaran agama.”

Ketiga, andai ungkapan itu benar, tentu tidak sah orang yang berdoa tidak menengadahkan tangan ke langit. Sebagaimana yang berlaku pada shalat, tidak sah shalat yang tidak menghadap ke arah kiblat.

Keempat, kiblatnya doa, ya sama dengan kiblatnya sholat.

Karenanya diantara sunah dalam berdoa adalah menghadap kiblat. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam pada banyak doa beliau.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)

Siapa mengatakan bahwa doa memiliki kiblat sendiri, bukan kiblat yang sama dengan sholat, itu artinya ada dua kiblat dalam Islam ini : kiblat ka’bah dan kiblat langit. Ini pernyataan yang tidak ada asal usulnya dari para salaf atau para sahabat, alias pernyataan bid’ah.

Kelima, istilah kiblat untuk menyebut menghadapkan wajah, bukan menghadapkan tangan.

Sebagaimana keterangan pada ayat berikut,

قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ

Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. (QS. Al-Baqarah : 144)

Maka kiblat doa, sama dengan kiblatnya sholat, menghadapkan wajah ke arah Ka’bah. Sebagaimana kiblat hewan saat disembelih dan kiblat jenazah saat dimakamkan. Apakah ada diantara aturan-anturan ibadah yang dianjurkan menghadap ke kiblat itu maksudnya cukup tangan saja yang dihadapkan? Kan tidak ada. Yang dimaksud ya menghadapkan wajah.

Ini menunjukkan bahwa tangan kita tengadahkan ke langit, bukan karena alasan langit adalah kiblat doa. Namun karena naluri kita yang tidak bisa dibohongi, bahwa Tuhan berada di atas.

Keenam, hadis perbincangan Nabi dengan budak wanita (jariyah).

Dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy, beliau mengisahkan,

“Saya memiliki budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pent).

Lalu pada suatu hari dia berbuat kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang juga bisa marah. Lantas aku menamparnya. Lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku.

Aku lantas berbicara pada beliau, “Ya Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?”

“Bawa dia padaku,” pinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Muawiyah.

Kemudian aku segera membawanya menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambertanya pada budakku ini,

أَيْنَ اللَّهُ

Di mana Allah?

Dia menjawab,

فِى السَّمَاءِ

Di atas langit.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?

Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Mari renungkan hadis di atas. Saat budak tersebut menjawab pertanyaan Nabi, “Dimana Allah?” Dia menjawab, “Allah di langit.” Jawaban itu dibenarkan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Andai keyakinan bahwa Allah di langit itu tidak benar; itu keyakinan sesat, tentu Nabi akan bereaksi segera meluruskan. Karena Nabi tidak akan pernah diam atau setuju dengan kesesatan. Lebih-lebih lagi saat kejadian itu terjadi disaksikan oleh kerumunan sahabat.
Namun ternyata Nabi tidak menyalakan jawaban budak itu. Justru beliau benarkan. Bahkan Nabi jelaskan keyakinan itu adalah tanda iman. Kata Nabi “Bebaskan, karena budak ini orang beriman.”

Wallahul muwaffiq.

***

Referensi :

  • Majmu’ Fatawa Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, terbitan: Darul Wafa’.
  • Syarah Akidah Thohawiyah, karya Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘iz Al-Hanafi, terbitan : Maktabah Riyadh Al-Haditsiyyah.
  • Al-Intoshor Fir Roddi ‘Alal Mu’tazilah Wal Qodariyyah Al-Asyror, karya : Syekh Yahya bin Abil Khoir Al-‘Imroni (Ulama Mazhab Syafi’i di negari Yaman), terbitan : Adwaa’ As-Salaf.

Diselesaikan di Ponpes Hamalatul Quran  Yogyakarta, 9 Dzulhijjah 1441 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here