Bukan Haid, Keluar Darah Ini Wanita Tetap Wajib Puasa Wajib Shalat

Bismillahirrahmanirrahim

Ada darah yang sering menyertai darah haid. Darah itu disebut darah istihadoh, wanita yang mengalami keluar darah istihadoh, biasa disebut sebagai mustahadoh.

Kaum muslimah wajib tahu tentang ciri atau perbedaan darah istihadoh dengan haid, dan juga tentang hukum syariat yang berlaku pada wanita mustahadoh. Karena jika tidak mengilmui hal ini, bisa salah paham. Sehingga menyebabkan ia tidak melakukan puasa dan sholat karena menganggapnya darah haid. Padahal bukan.

Ciri Darah Istihadoh

Darah istihadoh adalah darah yang keluar disebabkan sakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadoh merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau.

Ciri yang lain, darah yang keluar melebihi 15 hari siklus haid, juga disebut darah istihadoh. Sebagaimana dijelaskan dalam fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah,

وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة،

“Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh.” (Website resmi Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Hukum yang Berlaku pada Wanita Mustahadoh

Wanita yang mengalami istihadoh, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia tetap wajib melaksanakan sholat dan puasa. Dalilnya adalah hadis Aisyah radhiyallah ‘anha, beliau berkata,

جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟

Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian berkata:

“Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (Istihadah) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan shalat? ”

Rasul menjawab :

لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah shalat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu shalatlah. ” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan,

المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه

“Wanita yang mustahadhoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86).

Yang sedikit membedakan dengan wanita normal suci adalah dalam cara bersuci untuk shalat :

• Wanita mustahadoh wajib berwudhu setiap kali masuk waktu sholat wajib, artinya satu wudhu hanya boleh untuk satu sholat wajib beserta sholat-sholat sunah yang ada di bentangan waktu sholat wajib tersebut. Begitu beralih ke sholat wajib berikutnya, dia wajib wudhu kembali. Meskipun wudhu pada sholat sebelumnya belum batal.

• Disamping itu, ia juga harus membersihkan darah istihadohnya setiap kali masuk pada waktu sholat berikutnya. (Lihat Fatwa Syaikh Ibnu Baz rahimahullah)

Wallahua’lam bis showab.

Tanjung Telang Prabumulih, Sumsel, 23  Ramadhan1442 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here