Cara Shalat Idul Adha di Rumah

Bismillahirrahmanirrahim

Meningkatnya kasus penularan Covid-19 di banyak wilayah di Indonesia mendorong pemerintah menetapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Sehingga di wilayah yang tercakup PPKM tidak memungkinkan dilaksanakan sholat Idul Adha di lapangan seperti hari normal. Namun bukan berarti kaum muslimin tidak melaksanakan sholat idul Adha, ajaran Islam alhamdulillah memberikan keringanan kepada umatnya saat mereka tidak mampu melaksanakan ibadah secara normal,

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah menurut kemampuan kalian. (QS. At-Taghobun : 16)

Berikut ini penjelasan tentang cara sholat idul Adha di rumah :

Pada prinsipnya, tak ada yang berbeda dari cara sholat idul adha di rumah dengan cara sholat idul adha pada umumnya. Teknisnya sama. Kecuali tentang khutbahny, apakah tetap ada atau tidak.

Pertamajangan lupa melakukan sunah-sunah sebelum sholat id:

– Mandi sebelum sholat id.

Sebagaimanadisunahkah pada sholat Jumat (qiyas).

– Tidak sarapan sebelum shalat idul Adha bagi yang berkurban, agar ia leluasa makan dari daging kurbannya. Adapun bagi yang tidak berkurban, sunah ini tidak berlaku padanya.

Sebagaimana diterangkan dalam hadis
sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

– Memperbanyak takbir.

Kedua, Waktu pelaksanaan sholat idul Adha.

Waktu awal : sama dengan waktu sholat isyraq, yaitu sekitar 15 menit setelah matahari terbit.

Waktu akhir : saat matahari tepat di atas kepala; sebelum waktu zawal/duhur.

Untuk sholat Idul Adha disunahkan dikerjakan lebih awal. Agar ibadah kurban dapat segera dilaksanakan.

Ketigadilakukan sebanyak dua rakaat.

Sebagaimana riwayat dari sahabat Anas bin Malik, dan difatwakan oleh Lajnah Da-iman (Lembaga Fatwa), Saudi Arabia.

(Lihat : Majmu’ Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-iman, 8/306)

Keempatcara niat sholat id.

Cukup di dalam hati saja. Karena tidak ada riwayat dari para sahabat yang menerangkan lafad niat.

Caranya dengan mengetahui bahwa sholat kita ini adalah sholat idul fitri, sudah cukup. Tidak perlu mengucapkan niat di dalam hati.

Kelimabertakbir 7 kali di raka’at pertama, dan 5 kali di raka’at kedua.

Tidak ada dzikir khusus di sela-sela takbir. Jika ingin membaca dzikir silahkan, berdzikir apa saja.

Ada perbedaan pendapat ulama tentang cara menghitung takbir-takbir di atas:

Yang jelas, untuk takbir 5 kali di raka’at kedua, para ulama sepakat bahwa takbir perpindahan raka’at (takbir intiqol) tidak masuk ke dalam hitungan 5 tersebut.

Yang diperselisihkan adalah, tentang takbiratul ihram, apakah masuk ke hitungan 7 kali takbir raka’at pertama atau tidak :

Ada yang berpandangan 7 takbir tersebut sudah termasuk takbiratul ihram.

Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad, juga secara tegas diterangkan dalam riwayat dari sahabat Ibnu Abbas.

Ada yang berpandangan 7 takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram.

Pendapat Imam Syafi’i.

Yang tepat wallahua’lam : kedua boleh diamalkan.

Sebagaimana keterangan dari Imam Ibnu Rajab rahimahullah berikut,

ورجح هذا ابن عبد البر وجعله من الاختلاف المباح كأنواع الأذان و التشهدات ونحوهما

“Ibnu Abdil Bar memandang ini rajih(kuat). Beliau menjadikan perbedaan riwayat tentang jumlah takbir zawaid di raka’at sholat id, sebagai perbedaan yang mubah (artinya boleh memilih), sebagaimana macam-macam lafad azan dan bacaan tasyahhud.” (Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhori, 9/86)

Keenammembaca doa iftitah setelah takbiratul ihram, sebelum takbir zawaid.

Takbiratul ihram adalah takbir pembuka shalat.

Takbir zawaid adaalah takbir tambahan / takbir setelah takbiratul ihram dan setelah takbir perpindahan raka’at).

Ketujuhmengangkat tangan setiap kali takbir.

Diqiyaskan dengan anjuran mengangkat tangan saat takbir sholat jenazah. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma. Karena keduanya adalah sama-sama takbir berulang dalam sholat posisi berdiri.

Kedelapanmembaca surat Al-Fatihah.

Ini bersama takbiratul ihram, termasuk rukun sholat id, sebagaimana yang berlaku pada semua sholat.

Kesembilanmembaca surat setelah bacaan Al-fatihah.

Disunahkah membaca surat Al-A’la di raka’at pertama dan Al-Ghosyiah di raka’at kedua.

Atau membaca surat Qof di raka’at pertama kemudian surat Al-Qomar pada raka’at kedua.

Jika kesulitan membaca surat-surat di atas, boleh membaca surat atau ayat Al-Qur’an apapun yang mudah menurutnya.

Kesepuluhmenyempurnakan raka’at dengan ruku’ – sujud dll, sebagaimana sholat kita pada umumnya.

Kesebelassalam.

Kedua belas, apakah perlu khutbah?

Tidak perlu khutbah. Sebagaimana yang dilakukan sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu saat beliau melaksanakan sholat id di rumah bersama keluarga dan budak-budak beliau. Beliau melaksanakan sholat id dua raka’at dengan tanpa khutbah setelahnya. Ini juga difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da-iman, Saudi Arabia, dan dipilih oleh Dewan Fatwa Al-Irsyad, Indonesia.

(Lihat : Majmu’ Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-iman jilid 8, hal.306 dan Fatwa Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad No 029/DFPA/IX/1441)

Wallahua’lam bis showab.

***

REFERENSI :

  • Ibnu Rojab Al-Hambali, Al-Hafidz Zainuddin Abdul Faroj.  Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhori. Cetakan Pertama 1412 H / 1996 M.  Madinah – KSA : Maktabah Al-Guroba’ Al-Atsariyyah.
  • Ad-Duwaisy, Ahmad bin Abdur Razaq. Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-iman Lil Buhuts Al-‘Ilmiyah Wal Ifta’. Cetakan Pertama 1416 H / 1999 M. Riyad – KSA : Al-Riasah Idaroh Al-Buhuts Al-‘Ilmiyah Wal Ifta’.
  • Fatwa Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad No 029/DFPA/IX/1441. Tentang Seputar Sholat ‘Iedul Fitri di Rumah.
  • Tatacara Sholat Ied di Rumah, tulisan Dr. Firanda Andirja Abidin.

Sanden, Hamalatul Quran, Jogjakarta 09 Dzulhijjah 1442 H


Disusun oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here