Dunia Untuk Akhirat, Keberkahan yang Berlapis – Lapis

Bismillah….

Di dalam Islam, harta dan kekayaan adalah sesuatu yang sangat dihargai. Allah ta’ala sampai menyebut, harta itu dengan sebutan Khoir di dalam Al-Qur’an. Dan Khoir artinya : kebaikan. Seperti di ayat ini :

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ

dan sesungguhnya cintanya kepada Al Khoir (harta) benar-benar berlebihan. (QS. Al-‘Adiyat : 8)

Maknanya diterangkan dalam Tafsir Al-Baghawi

( وإنه ) يعني الإنسان ، ( لحب الخير ) أي لحب المال ، ( لشديد ) أي : لبخيل

dan sesungguhnya cintanya, maksudnya manusia.

kepada Al-Khoir, maksudnya harta.

sangat berlebihan, maksudnya sangat pelit.”(Tafsir Al-Baghawi)

Sebutan Al-Khoir yang artinya kebaikan, juga termaktub dalam surat Al-Baqarah, ayat 180 :

كُتِبَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ إِن تَرَكَ خَيۡرًا ٱلۡوَصِيَّةُ لِلۡوَٰلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ بِٱلۡمَعۡرُوفِۖ حَقًّا عَلَى ٱلۡمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan Al – Khoir (harta), berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.

Mengapa harta disebut Al – Khoir yang artinya kebaikan?

Karena memang kenyataannya harta dapat menjadi sumber banyak kebaikan dunia dan akhirat.
Sampai salahsatu pintu pahala Jariyah adalah, melalui jalur harta.

Jika manusia meninggal dunia, “Kata Nabi shalallahu alaihi wa sallam, “maka amalnya terputus kecuali karena tiga amal.”

Salahsatunya :

صدقة جارية

Sedekah jariyah. (HR. Muslim)

Dengan harta, kita bisa dapat doa dari malaikat. Ini Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang mengabarkan :

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).”

Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Mengingat banyaknya lapis-lapis keberkahan di dalam harta, Nabi shalallahu alaihi wa sallam sampai jadikan ini sebagai isi doa untuk sahabat tersayang beliau; Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسٌ خَادِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَه،ُ

“Ya Rasulullah, Anas adalah pembantu Anda, mohon doa baik untuknya.” Pinta Ummu Sulaim radhiyallahu’anha; Ibunda Anas bin Malik.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam lantas mendoakan,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَه

“Ya Allah, perbanyakan untuknya harta dan keturunan. Dan berkailah ia pada harta dan keturunan yang Engkau karuniakan kepadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Paparan di atas, adalah bukti bahwa harta dan kaya dalam Islam bukan sebagai momok negatif. Islam tak melarang kita menjadi kaya. Bahkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam sendiri pernah kaya, pernah juga jatuh miskin. Para sahabat Nabi seperti Abu Bakr, Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan juga saudagar kaya raya.

Yang menjadi tercela adalah jawaban pertanyaan ini :

Untuk apa harta?

Untuk apa kaya?

Jika untuk dosa, ini baru tercela dan petaka.

Jika untuk ibadah kepada Allah, ini adalah kemuliaan, keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Banyak pintu pahala yang bisa kita masuki melalui harta. Sedekah, membantu penyebaran dakwah Islam, wakaf, zakat, membangun masjid dll.

Allah menceritakan tentang amalan yang menyebabkan penduduk surga mendapat surga, salah satunya adalah karena harta :

أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡتَوۡنَ أَجۡرَهُم مَّرَّتَيۡنِ بِمَا صَبَرُواْ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Mereka itu diberi pahala dua kali (karena beriman kepada Taurat dan Al-Qur’an) disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. (QS. Al-Qashash : 54)

Makanya kekayaan itu akan semakin indah, mulia dan bermanfaat, saat dipegang oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengatakan,

نِعْمَ المالُ الصَّالحُ للمَرءِ الصَّالحِ.

Senikmat-nikmat harta adalah, saat dimiliki oleh orang yang shalih. (HR. Bukhori)

Dunia untuk akhirat = keberkahan.

Akhirat untuk dunia : kebinasaan.

Dunia untuk dunia : kerugian.

Semoga harta kita diberkahi, menjadi sebab mendapatkan cinta dan surga Allah azza wa jalla.

@Diselesaikan di : Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Jogjakarta, 9 Shafar 1442 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori (Pengasuh Thehumairo)

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here