Berilmu Jangan Lupa Beradab

Bismillah…

Jika anda diminta memilih, antara bersahabat dengan orang berilmu tapi tak punya adab, dengan orang yang pas-pasan dalam keilmuawan, tapi beradab, anda akan nyaman bersama siapa?

Kita sama, karena jiwa kita lebih nyaman berteman dengan orang baik adabnya, walaupun pas-pasan ilmunya.

Siapa yang nyaman berteman dengan orang pintar, tapi pembohong, pintar tapi tidak amanah, pintar tapi egois, pintar tapi culas atau pintar tapi jago korupsi. Semua tak nyaman dengan orang yang seperti ini.

Ilmu yang ada pada orang yang tak beradab, menjadi tertutupi oleh gelapnya adabnya. Sehingga ilmu tak lagi membuatnya bersinar dan tak lagi mengangkatnya. Tak ada artinya ilmu tanpa adab yang baik. Bisa dikatakan, hasil dari ilmu adalah adab akhlak yang baik. Ilmu seseorang bisa disebut tak manfaat saat tak dapat membuatnya berakhlak baik.

Benar apa yang dipesankan Makhlad bin Husain kepada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم

“Kita lebih butuh pada banyak adab daripada banyak ilmu.”

Seorang pujangga arab bersyair,

والمرء لا يسمو بغير الأدب

وإن يكن ذا حسب و نسب

Seorang tak akan bisa mulia tanpa adab.

Meski ia memiliki kedudukan dan berdarah bangsawan.

Di samping itu, ilmu yang benar-benar berkah dan manfaat itu, tak akan berkenan bersemayam di dalam hati orang yang tak punya adab. Jika iya ada ilmu yang ada padanya, itu hanya sebatas wawasan, bukan ilmu yang sebenarnya. Karena ilmu yang berkah akan membentuk karakter yang mulia pada diri pembawanya.

Yusuf bin Husain pernah mengatakan,

بالأدب تفهم العلم

“Hanya dengan adab, Anda akan memahami ilmu.”

Seorang guru, sebelum iya mengajarkan ilmunya, akan melihat mana murid yang layak ia transferkan ilmunya. Ukuran kelayakan itu adalah, adab.

Dan guru akan lebih ikhlas mengajarkan ilmu, kepada murid yang beradab baik kepadanya. Sehingga ini menjadi wasilah keberkahan ilmu yang diperoleh oleh sang murid.

Oleh karenanya, para salafus sholih dahulu sangat perhatian kepada adab. Sebanding dengan besarnya perhatian mereka terhadap ilmu. Ibnu Sirin mengatakan,

كانوا يتعلمون الهدى كما يتعلمون العلم

“Para ulama dahulu, mereka belajar abad sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Bahkan mereka lebih mendahulukan penanaman adab sebelum penanaman ilmu. Imam Malik pernah memberi nasehat kepada anak muda dari suku Quraisy,

يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تعلم العلم

“Wahai saudaraku, belajarlah adab sebelum belajar ilmu.”

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitab Madarijus Salikin menekankan tentang pentingnya adab bagi pelajar atau penuntut ilmu,

أدب المرأ عنوان سعادته وفلاحه, وقلة أدبه عنوان شقاوته وبواره, فما استجلب خير الدنيا والآخرة بمثل الأدب, ولا استجلب حرمانهما بمثل قلة الأدب

“Adab seseorang adalah tanda kesuksesan dan kebahagiaannya. Kurang adab adalah tanda kegagalan dan kesedihan. Tak ada karunia yang paling bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, melebihi adab. Dan tak ada musibah yang paling bisa menghalangi seorang dari kebaikan dunia dan akhirat, melebihi kurangnya adab.” (Madarijus Salikin)

Wallahulmuwaffiq.

Sekian…

Referensi :

– Mukhtashor Ta’dhiim Al-‘Ilmi, Syekh Sholih Al-‘Ushoimi.

Hamalatul Quran Jogjakarta, 22 Rabiul awal 1442 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori (Pengasuh Thehumairo)

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here