Bismillah

Donasi Wakaf

Mengajar, membaca, mendengarkan, memahami, memikirkan ilmu, adalah agenda yang paling baik mengisi waktu anda di rumah anda. Tak ada kesibukan paling baik, melebihi sibuk anda bersama ilmu.

Imam Az-zuhri rahimahullah pernah mengatakan,

ما عُبِدَ اللَّهُ بمثل الفقه

“Tak ada ibadah yang lebih agung dipersembahkan untuk Allah, melebihi ibadah fikih (memahami ilmu).”

Semenjak wabah COVID-19 melanda negeri kita, banyak kajian para ustadz yang diliburkan. Namun alhamdulillah, Allah masih sayang kepada kita, sehingga masih bisa mendengarkan ilmu, melalui jejaring internet. Para ustadz mulai menggunakan nikmat ini sebagai sarana menyebarkan ilmu, via live streaming di YouTube, Instragram, Facebook, google duo, Zoom dll.

Apakah mengikuti kajian online seperti ini, mendapatkan pahala menghadiri majelis ilmu?

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda tentang pahala majelis ilmu,

لا يقعدُ قومٌ يذكرون اللهَ عز وجل إلا حفَّتْهم الملائكةُ ، وغشيتْهم الرحمةُ ، ونزلتْ عليهم السكينةُ ، وذكرهم اللهُ فيمن عنده

Tidaklah suatu kaum duduk untuk mengingat Allah, kecuali para Malaikat (rahmah) mengelilinginya, rahmat Allah menyelimutinya dan turun kepada mereka ketenangan, serta Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang berada di sisinya.” (HR. Muslim)

Sebelum menjawab, mohon digaris bawahi bahwa, jawaban ini hanya berlaku untuk orang yang mengikuti kajian secara live. Adapun yang tidak live, maka jawaban ini tidak berlaku. Meskipun tetap mendapatkan pahala menuntut ilmu lainnya, namun tidak untuk pahala menghadiri majelis ilmu yang ganjarannya berupa dikelilingi malaikat, diliputi rahmat dst.

Jawabannya adalah, insyaallah orang yang mengikuti kajian live streaming, juga mendapatkan pahala majelis ilmu yang disebutkan pada hadis di atas. Ada dua alasan setidaknya yang mendasari jawaban ini :

Pertama, tidak hadir ke pengajian, karena uzur, tetap dapat pahala normal.

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana Ibadah yang dia lakukan ketika sehat atau ketika tidak safar.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan, bahwa seorang yang beruzur melakukan rutinitas ibadahnya saat ia masih sehat atau kondisi normal, ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana kondisi normalnya. Walaupun ia tak mampu melakukan ibadah tersebut atau tidak maksimal melakukannya.

Baca juga : Tidak Sholat Jama’ah Karena Wabah Corona, Tetap Dapat Pahala Jama’ah

Syekh Kholid Al Muslih menerangkan,

وهو يشمل كل صاحب عذر في تركه لما كان عليه من الخير،

“Hadis di atas berlaku pada semua yang beruzur (seperti kekhwatiran tertular wabah, pent) melakukan ibadah yang dia lakukan saat kondisi normal.” (https://almosleh.com/ar/12665)

Para ulama telah menjelaskan, bahwa wabah Corona adalah uzur syar’i boleh tidak sholat Jumat dan sholat berjamaah, padahal kedua ibadah tersebut bersinggungan dengan rukun Islam, maka terlebih lagi menghadiri pengajian. Sehingga karena adanya penghalang berupa wabah ini, seorang tetap mendapatkan pahala menghadiri pengajian secara normal/ideal, walaupun ia hanya menyimak melalui kajian online atau live streaming.

Kedua, teknis kajian seperti itu, masuk dalam definisi bermajelis ilmu.

Dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ menyebut perkumpulan pengajian dengan sebutan majelis dzikir. Dijelaskan oleh Imam ‘Atho’,

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام،

“Majelis dzikir maksudnya majelis yang di dalamnya dijelaskan halal dan haram.” (Tarikh Dimasqi, 40/432)

Sebutan ringkasnya, majelis ilmu. Ini menunjukkan, bahwa setiap orang yang ikut serta dalam majelis ilmu, ia mendapatkan pahala bermajelis ilmu.

Karena seorang untuk disebut bermajelis, tidak harus dengan hadir bertatap muka. Seperti transaksi online misalnya, para ulama menghukumi sebagai majelis jual beli yang sah. Sehingga ketentuan jual beli, seperti hak khiyar dan yang lainnya, juga berlaku pada model transaksi ini. Demikian pula dengan majelis ilmu, seorang yang menyimak secara online, juga masuk dalam definisi bermajelis ilmu.

Baca juga : Ilmu Itu Menenangkan, Bodoh Itu Menegangkan

Syekh Dr. Abdullah As-Sulmi menerangkan,

ولا شك أن مجالسَ العلم مجالسُ تحفها الملائكة، وتغشاها الرحمة، وتتنزل عليها السكينة. ولهذا فإن فقهاء الإسلام من علماء العصر، يرون أن المجلس إنما هو ما تعارف عليه الناس في المجلس، فمجلس البيع هو ما يتبايع فيه المتبايعان، أو ما يحصل فيه في وسائل الاتصال الحديثة، ولا شك أن هذا المجلس الذي -بإذن الله- تحفُّه الملائكة، وإن كان مع الإخوة معنا في هذا الاستديو، وكذلك فيمن خلف الشاشات، يستمعون ويترقبون، يأخذون أقلامهم، يُقيدون فوائد هذا الدرس، فإنهم -بإذن الله- سوف يكونون -بإذنه- ممن تحفهم الملائكة، فحيهلا جميعًا في هذا الصرح المبارك.

“Tidaklah diragukan bahwa majelis ilmu adalah majelis yang dikerumuni oleh para malaikat, rahmat Allah melimpah ruah di sana dan ketenangan pun diturunkan di tempat tersebut.

Para pakar fikih kontemporer berpandangan bahwa pengertian majelis adalah segala sesuatu yang dinilai sebagai majelis oleh masyarakat. Majelis jual beli adalah tempat terjadinya transaksi jual beli baik secara langsung atau pun melalui berbagai sarana komunikasi modern.

Tidaklah diragukan bahwa majelis kajian ini dengan izin Allah, adalah majelis yang dikerumuni para malaikat. Baik yang hadir bersama kami di studio atau pun yang menyimak dan memperhatikan kajian di balik komputer, sambil memegang pena dan mencatat pelajaran yang disampaikan. Maka mereka ini dengan izin Allah termasuk orang orang yang dikerumuni malaikat.” (Kami nukil dari situs guru kami ustadzaris.com)

Baca juga : #DiRumahAja, Yuk Bersiap Bertemu Ramadhan

Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota ulama Senior Saudi Arabia) saat ditanya apakah hadis yang menjelaskan keutamaan majelis ilmu yang dikelilingi malaikat, apakah orang yang menyimak melalui internet, ia berada tempat yang jauh dari majelis, apakah tetap mendapatkan pahala di atas?

Jawaban Syekh :

فضلُ الله واسعٌ، لا حجْرَ على فضلِ اللهِ، نرجو أنْ يشملَه، نرجُو، وهذا هو المُستطاعُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ، وهذا قد طلبَ العلمَ بما يستطيعُ، وشاركَ طُلَّابَ العلمِ والمُجتمعين على ذلك شاركَهم بالوسيلةِ التي تيسَّرَتْ له، واللهُ المُستعان .

“Karunia Allah itu luas, tak boleh membatasi karunia Allah yang maha luas. Kami berharap, ganjaran tersebut juga mencakupi orang yang menyimak melalui internet.

Bertakwalah kepada Allah semampu kalian. Orang tersebut telah menuntut ilmu sebatas kemampuan yang ia miliki. Ia ikut serta bersama penuntut ilmu lainnya dan para hadirin melalui sarana yang mudah ia upayakan. Allah yang memberi pertolongan.” (https://sh-albarrak.com/article/10006)

Wallahua’lam bis showab.

Hamalatul Quran Yogyakarta, 26 Sya’ban 1441 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here