Bismillah…

Donasi Wakaf

Sabtu 11 April dini hari kemarin, warga Jakarta dan sekitarnya mendengar kejadian misterius, yaitu suara dentuman yang terdengar berulang-ulang. Kabar ini menjadi viral di laman-laman berita. Bisa jadi karena kejadiannya yang langka dan mengagetkan.

Namun ada yang lebih membuatku kaget. Selang beberapa jam dari kejadian, tersebarlah ceramah seorang ustadz, yang mengaku sebagai pengamat akhir zaman. Video itu dengan cepat tersebar. Isinya, mengaitkan dentuman misterius itu, dengan sinyal dekatnya kemunculan tanda kiamat besar, seperti keluarnya Imam Mahdi dan Dajjal. Rasanya, sebuah kedzaliman kepada Islam dan kaum muslimin, saat gelar ahli ilmu / ulama / ustadz, dengan mudah diobral desematkan kepada orang yang seperti ini konten dakwahnya. Orang-orang awam banyak yang tertipu.

Simak : Bahaya Mengambil Ilmu dari Ustadz Cocokologi

Laa haulaa wa laa quwwata Illa Billah.

Para pembaca yang dimuliakan Allah. Berikut kami rangkumkan beberapa catatan penting, terkait fenomena yang terjadi Sabtu 11 April 2020 dini hari :

Pertama, menakut-nakuti seorang muslim hukumnya haram.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti seorang muslim yang lain. (HR. Abu Dawud)

Tidak halal, menunjukkan hukum haram. Bila membuat seorang muslim takut saja haram, terlebih bila yang dibuatnya takut adalah kaum muslimin satu kota, dua kota atau bahkan seantero negeri.

Kecuali jika memang suatu hal itu jelas menakutkan berdasar ilmiyah. Seperti wabah virus Corona, yang telah dijelaskan bahayanya oleh para ahli dan pihak berwenang. Kemudian para ulama dan ustadz pun mengamini, dengan mengingatkan masyarakat tentang dosa-dosa mereka, serta mengajak mereka bertaubat kepada Allah. Karena semuanya terjadi atas izin Allah ta’ala.

Wabah corona sudah sangat menakutkan masyarakat, apa tega kalian tambah lagi dengan ketakutan yang tak berdasar itu?!

Kedua, berhati-hati berbicara tanpa ilmu.

Mengaitkan fenomena dentuman itu, bahwa itu pertanda akan terjadi ini dan itu, sinyal akan tibanya tanda kiamat, adalah perkara ghaib, yang wajib berdasar pada dalil wahyu.

Kita tak boleh sembarangan bicara. Apalagi ngelantur. Apalagi ke-ngelanturan kita didengar oleh ribuan atau jutaan orang. Kemudian hasil ngelantur kita, menjadi akidah yang mereka percayai?! Alangkah kejamnya. Kasihan masyarakat awam.

Allah berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ilmui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra’ : 36)

Baca juga : Ilmu Itu Menenangkan, Bodoh Itu Menegangkan

Ketiga, hati-hati dengan dosa jariyah.

Adanya jaringan internet adalah nikmat luar biasa. Anda yang di rumah di situasi pandemi corona saat ini, tetap bisa menambah ilmu melalui kajian-kajian live streaming dari para ustadz. Sehingga kebaikan ini cepat tersebar, alhamdulillah. Namun di sisi lain, internet yang sebagai nikmat ini bisa menjadi mimpi yang sangat menyeramkan. Karena kebatilan dan kabar-kabar hoax, juga dengan mudah tersebar. Sehingga di zaman seperti saat ini, orang sangat mudah menuai pahala jariah, namun, di sisi lain, juga mudah mendapatkan dosa jariyah.

Na’dzubillah min dzalik…
Semoga kita termasuk yang mendapatkan keberkahan dari nikmat internet ini.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Siapa yang menunjukkan pada kebaikan  dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan, setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa yang menunjukkan kejelekan, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Maka hendaklah kita bertakwa kepada Allah dari asal bicara tentang akhir zaman, meramal yang hanya berpegang pada dugaan-dugaan. Jika ramalan anda tersebar, kemudian menjadi akidah ribuan atau jutaan orang, betapa banyak orang yang kita sesatkan. Betapa ngeri dosanya.

Semoga Allah mengampuni kita dan menambahkan taufik dan hidayahNya.

Wallahua’lam bis showab.

***

Tulisan ini terinspirasi dari nasehat singkat Ustadz Dr. Firanda Andirja -hafidzohullah- tentang fenomena tersebut, teman-teman bisa menyimak di sini : Misteri Dentuman 11 April.

Hamalatul Quran Yogyakarta, 18  Sya’ban 1441 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here