Islam Menghantam Nilai-Nilai Rasisme

Donasi Wakaf

Bismillah

Kematian Jose Floyd / George Floyd di tangan polisi berkulit putih Amerika Serikat, ramai disebut belakangan di seluruh penjuru dunia. Kejadian tersebut telah memicu demo anti-rasisme besar di berbagai negara bagian AS.

Peristiwa itu mengingatkan kami tentang cara Islam menyikapi rasisme.

Menggali nilai ini, menjadikan kita benar-benar merasakan Islam sebagai agama yang menebar kasih sayang kepada siapapun di muka bumi ini.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Diantara implikasi dari prinsip yang tersebut dalam ayat di atas adalah, menghilangkan skat-skat rasisme dari kehidupan manusia. Karena semua orang berhak sama mendapatkan kasih sayang. Semuanya berhak mendapat keadilan. Semuanya berhak mendapatkan pengakuan atas nilai-nilai kemanusiaan.

Prinsip anti rasis kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Imam Al-Wahidi rahimahullah, di dalam kitabnya “Asbab Nuzul Al Qur’an” (hal. 411), menyebutkan sebab turunnya ayat ini. Peristiwa bersejarah itu terjadi saat Fathu Makkah, ketika Nabi ﷺ memerintahkan Bilal naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Harits bin Hisyam laki-laki bersuku Quraisy, saat mendengar azannya, berkomentar penuh rasis,

أما وجد محمد غير هذا الغراب الأسود مؤذنا،

“Apa tidak ada muazin lain, kok Muhammad memilih orang hitam asing ini menjadi muazin?!”

Teman-teman tahukan siapa Bilal? Laki-laki berkulit hitam yang datang dari negeri Habasyah!

Lalu turunlah ayat di atas untuk menghantam nilai-nilai rasis itu.

Di saat warna kulit dijadikan standar martabat manusia oleh orang – orang barat, atau oleh kebanyakan orang kekayaan dinilai sebagai ukuran kemuliaan, Islam memilih suatu standar martabat yang sangat adil dan tidak terbatasi oleh sekat-sekat rasisme. Standar itu adalah “takwa”.

Semua orang yang bisa menyentuh takwa dengan sangat sporty. Kulit hitam bisa bertakwa, kulit putihpun demikian. Yang paling mulia menurut Islam adalah yang paling bertakwa kepada Allah.

Tentang definisi takwa, seorang ulama senior di generasi Tabi’in menyebutkan definisinya,

العمل بطاعة الله ، على نور من الله ، رجاء ثواب الله ، وترك معاصي الله ، على نور من الله ، مخافة عذاب الله .

“Beramal taat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dan mengharap pahala Allah. Serta meninggalkan maksiat, berdasarkan cahaya dari Allah dan rasa takut kepada azab Allah.”

Cahaya Allah di sini maksudnya, ilmu. Beramal kebajikan didasari ilmu dan meninggalkan dosa disadari ilmu, Itulah takwa.

Dan letak takwa bukan di warna kulit, bukan di harga baju, bukan di nilai kekayaan, tapi di hati. Kata Nabi ﷺ takwa itu di hati,

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Takwa itu ada di sini.”

Beliau sambil menunjuk ke dada beliau sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ
دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“Cukuplah seorang itu dikatakan berbuat dosa, saat ia menghina saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim yang lain, haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)

Melalui hadisnya, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya prinsip anti rasisme,

يا أيها الناس ألا إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ألا لا فضل لعربي على أعجمي و لا أعجمي على عربي و لا لأحمر على أسود ولا أسود على أحمر إلا بالتقوى 

“Wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu, ketahuilah tidak ada keutamaan dari orang arab terhadap non arab, dan juga tidak ada keutamaan orang non arab dari orang arab kecuali ketakwaannya.” (HR. Ahmad)

Lebih tegas lagi, di dalam hadis dari sahabat Sahl bin Sa’ad As-Saa’idi radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wasallam menanamkan prinsip anti rasis kepada sahabatnya.

Disebutkan dalam hadis tersebut, ketika seorang kaya berjalan melewati Nabi ﷺ dan para sahabatnya, beliau bertanya kepada sahabatnya,

مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا ؟

“Apa pendapatmu mengenai orang ini?”

sayang ditanya menjawab,

رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ ، هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ

“Ia begitu berwibawa. Bila ia meminang pasti diterima. Bila memberi perlindungan pasti akan dipenuhi. Dan bila ia berbicara akan didengar.”

Nabi pun kemudian terdiam.

Sesaat setelah itu, seorang laki-laki miskin melewati beliau. Beliau bertanya kembali,

مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا ؟

“Kalau tentang orang ini, apa pendapatmu?”

Sahabat pun menjawab,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ المُسْلِمِينَ ، هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لاَ يُنْكَحَ ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لاَ يُشَفَّعَ ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لاَ يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ

” Ya Rasulallah, ia pantas bila meminang untuk ditolak. Bila memberi perlindungan tak akan digubris. Dan bila berbicara tak akan didengar.”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tanggapan yang benar-benar menghantam nilai-nilai rasis,

هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

“Sungguh orang miskin ini lebih baik di sisi Allah daripada orang kaya tadi meski jumlah mereka memenuhi bumi.” (HR. Bukhori)

Prinsip anti rasis, yang telah diajarkan Islam dalam kitab sucinya dan sabda-sabda Nabi ﷺ yang mulia, bukan hanya sebatas selogan. Namun benar-benar tercatat dalam sejarah dan diamalkan oleh kaum muslimin. Hal ini terbukti dengan :

[1] Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memilih laki-laki asing, berkulit hitam, tak memiliki status sosial di masyarakat Arab ketika itu, sebagai muazin beliau. Laki-laki itu bernama Bilal bin Abi Robah.

[2] Sahabat Abdurrahman bin Auf merestui Bilal untuk menikah dengan saudarinya. Padahal kita tahu siapa Abdurrahman bin Auf, sahabat yang kaya raya dan masuk di daftar orang-orang terpandangnya suku Quraisy.

[3] Khalifah Umar bin Khattab, saat ditanya tentang Bilal, beliau mengatakan, “Dia adalah tuan kami.”

[4] Hasan Al-Basri yang nasehat-nasehat hikmahnya sering kita temukan, ternyata sosok laki-laki berkulit hitam.

[5] Lukman Al Hakim yang nasehat emasnya kepada anak beliau, terekam dalam Al-Qur’an, juga ternyata laki-laki berkulit hitam. (Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sa’d bin Musayyib).

Dan masih banyak bukti yang lain.

Sebagai penutup, kami nukilkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

وَقَدْ تَنَازَعَ النَّاسُ أَيُّمَا أَفْضَلُ : الْفَقِيرُ الصَّابِرُ أَوْ الْغَنِيُّ الشَّاكِرُ؟ وَالصَّحِيحُ : أَنَّ أَفْضَلَهُمَا أَتْقَاهُمَا ؛ فَإِنْ اسْتَوَيَا فِي التَّقْوَى اسْتَوَيَا فِي الدَّرَجَةِ “

“Orang-orang berbeda pandangan tentang status siapa yang lebih mulia, antara si fakir yang bersabar dengan si kaya yang bersyukur?

Jawaban yang tepat adalah, yang paling mulia diantara keduanya adalah yang paling bertakwa. Jika kualitas takwa meraka sama, maka derajat mereka pun sama.” (Lihat : Majmu’ Fatawa jilid 11, hal. 15)

Sekian…

Wallahul muwaffiq…


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here