Cinta_tanahair_thehumairo.com
Cinta_tanahair_thehumairo.com

Bismillah…

Donasi Wakaf

Akhir-akhir ini umat Islam mengalami diskriminasi posisi dalam berbangsa dan bernegara. Isu-isu terkait anti pancasila dan radikalisme dijadikan dalih generalis untuk melebelling ‘Islam musuh ideologi bangsa’ dan menimbulkan opini publik bahwa Islam tak mengenal toleransi bernegara. Tentunya hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar bagi umat Islam di Indonesia yang telah menjadi bagian penting dari sejarah pembentukan bangsa ini. Untuk itu perlu adanya penjelasan bagaimana Islam mengajarkan bersikap kepada bangsa dan negara, khususnya cinta kepada tanah air, Indonesia.

Tanah air, adalah hal yang paling dicintai manusia setelah keyakinannya. Kita mendapati, orang-orang merasa nyaman tinggal di negeri dengan dingin ekstrim, atau panas yang ekstrim, tidak lain karena kecintaan mereka kepada bangsa dan tanah airnya. Kemanapun manusia berkelana, dia pasti rindu dengan bumi pertiwi.

Bahkan, seluruh makhluk di muka bumi, terpatri naluri mencintai tanah airnya. Kumpulan burung rela terbang mengarungi benua, demi dapat kembali lagi ke habitatnya. Burung godwit mencapai 30.000 km. Perjalanan ini ditempuh dalam tiga kali penerbangan non-stop selama 20 hari. Ia mulai terbang dari Selandia Baru ke Australia timur, dari Australia timur ke Asia, dari Asia ke Alaska, dan dari Alaska kembali ke Selandia Baru.

Segerombolan ikan, akan berenang lintas Samudra untuk dapat berkumpul kembali ke habitatnya. Ada jenis ikan yang diberi nama Nicoe, tercatat berenang 11.100 km, dari Afrika Selatan ke barat Australia, dan dalam jangka sembilan bulan, kembali lagi ke Afrika. (sumber : https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth)

Subhanallah

Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah manusia. Seluruh syariatnya, dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Bahkan asas semua syariatnya adalah cinta,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Sehingga adanya anggapan, bahwa Islam bertertangan dengan konsep cinta kepada tanah air, atau musuh untuk pancasila sebagai dasar negara, adalah kesimpulan pasti keliru. Orang yang berasumsi seperti itu bisa jadi karena 3 hal berikut :

  • Tidak memahami ajaran Islam yang sebenarnya/murni.
  • Kebencian kepada Islam.
  • Menyimpulkan cara pandangan terhadap Islam, melalui oknum-oknum muslim.

Baiklah sahabat Humairo, berikut penulis paparkan beberapa dalil Quran dan Sunah, yang berisi motivasi mencintai tanah air NKRI :

Pertama, Islam menyandingkan cinta pada tanah air dengan cinta kepada jiwa.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ

Andai Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah diri kalian atau keluarlah kamu dari kampung halaman kalian”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. (QS. An-Nisa : 66)

Kedua, Allah mensifati manusia pilihan, yang menemani Nabi berimigrasi ke kota Madinah, dengan sebutan kaum Muhajir.

Sebuah sebutan yang teramat mulia, dan ganjaran yang Allah berikan kepada mereka pun sangat besar. Karena meninggalkan bumi pertiwi, adalah yang paling berat dirasa oleh manusia.

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Kaum Muhajir yang orang fakir, karena berhijrah diusir dari kampung halaman, meninggalkan harta benda mereka, demi mencari pahala dari Allah dan keridhaan-Nya. Serta mereka ingin menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang jujur. (QS. Al-Hasyr : 8)

Ketiga, bahkan Islam menyandingkan cinta pada tanah air dengan cinta kepada agama.

ا يَنْهَاكُمُ اللَّـهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah : 8)

Keempat, cinta kepada tanah air, adalah karakter para Nabi.

Diantaranya, Allah menceritakan tentang Nabi Musa ‘alaihissalam,

فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِن جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّي آتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat kembali membawa suatu kabar kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan” (QS. Al-Qosos : 29)

Imam Abu Bakr bin Al-Arobi rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas,

فلما قضى موسى الأجل طلب الرجوع إلى أهله وحن إلى وطنه

“Para ulama kami menerangkan, “Di saat Musa telah menyelesaikan suatu urusannya, beliau ingin kembali kepada keluarga beliau, karena rindu dengan tanah air beliau. (Lihat : Ahkamul Qur’an 3/1470)

Kelima, rindu Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada tanah airnya.

Saat beliau terusir dari tanah airnya; Makkah, dengan penuh rasa sedih dan rindu, beliau bersabda tentang Makkah saat pergi meninggalkannya,

ما أطيبكِ من بلد، وأحبَّكِ إليَّ! ولولا أن قومي أخرجوني منكِ ما سكنتُ غيركِ

Tak ada negeri yang lebih baik dan lebih aku cintai daripada dirimu. Kalau saja bukan karena aku diusir oleh kaumku tentu aku tak akan tinggal ditempat selainmu. ( HR.Tirmidzi : 3926).

Keenam, saat beliau tinggal di tanah air yang baru, beliau pun berdoa agar diberi kecintaan kepadanya,

اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau bahkan lebih. (HR. Bukhori)

Ketujuh, Beliau mendoakan doa terbaik untuk tanah airnya.«

اللهم اجعل بالمدينة ضِعْفَي ما جعلت بمكة من البركة

Ya Allah, jadikanlah untuk Madinah dua kali lipat keberkahan yang Engkau berikan kepada Makkah. (HR. Bukhori)

Kedelapan, dalam Islam, taat kepada pemerintah adalah bagian dari Iman.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.  (QS. An-Nisa’ : 59)

Yang dimaksud Ulil Amri adalah, pemerintah sebagaimana dijelaskan oleh sahabat Abu Hurairah dan para ulama sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhum. (Lihat : Tafsir Al-Baghawi dan As-Sa’di, pada tafsiran An-Nisa ayat 59)

Kita perhatikan sahabat, setidaknya ada dua indikasi yang menunjukkan bahwa Islam taat kepada pemerintah atau kesetiaan kepada negara, adalah bagian dari Iman :

  • Sebelum Allah sampaikan perintah untuk taat kepadaNya, RasulNya dan Ulil Amri, Allah buka perintah tersebut dengan panggilan iman “Yaa ayyuhal ladziina aamanu…” (Wahai orang-orang beriman). Ini menunjukkan bahwa ciri seorang yang sejati imannya, adalah yang setia / taat Allah, RasulNya dan Ulil Amrinya.
  • Allah sandingkan penyebutan taat kepada Ulil Amri dengan ketaatan yang paling mulia dalam kehidupan ini, yaitu kepada Allah dan Rasul-Nya. Menunjukkan taat kepada Ulil Amri dalam Islam adalah suatu hal yang sangat penting.

Namun tentu saja, ketaatan kepada pemerintah terbatas pada hal-hal yang tidak menyelisihi syariat. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Tidak ada ketaatan kepada Makhluk pada hal maksiat kepada Sang Pencipta.

Ternyata Islam adalah agama yang menanamkan prinsip mencintai NKRI. Ini terbukti dari beberapa dalil di atas, dan implementasinya bahkan terbukti dari historis bangsa kita, umat Islam sangat memberikan kontribusi terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia. Banyak dari deretan nama pahlawan, beragama Islam, sebut saja diantaranya, Jenderal Besar Soedirman, Bung Tomo, Imam Bonjol, Ir. Soekarno, Muhammad Hatta dll.

Maka, sebaik-baik teladan dalam berbangsa dan bernegara adalah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliau mencintai, melindungi, mendoakan kebaikan, serta memberikan kontribusi manfaat secara religi dan keduniaan, kepada bangsa dan tanah airnya

Wallahua’lam bis showab.

Yogyakarta, Hamalatul Quran, 23 Jumadal Akhir 1441 H

Baca Juga: Hukum Tugas Dinas Menjaga Acara Maksiat


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here