Catatan Ngaji QOWAIDUL ARBA’ (#1)

Bismillah….

Donasi Wakaf

Dengan mempelajari matan ini yaitu Qawaidul Arba’, seseorang akan mengetahui bagaimana ia menjadi orang yang bertauhid sejati (muwahhid).

Kalimat Pembuka

ان الحمد لله (1) نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا(2) و من سيئات اعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له و اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمد عبده و رسوله (4) اما بعد

Sesungguhnya segala pujian untuk Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampunan dengannya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kita, serta dari keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tak akan ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Namun siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak seorangpun yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah, tak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Amma ba’du.

Penjelasan :

Kalimat pembuka di atas adalah pembukaan yang biasa nabi ucapkan dalam pembukaan khutbah – khutbah beliau. Untaian kalimat pembuka khutbah ini disebut sebagai “Khutbatul Hajah“.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ [ فِيْ النِّكَاحِ وَغَيْرِهِ ] : إنَّ الْحَمْدُ لِلّهِ….ال

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami khutbatul hajah … –sebagaimana lafal di atas– ….” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, Al-Hakim, Ahmad, dan yang lainnya, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)

Ada beberapa hikmah yang dari Khutbatul Hajah di atas :

[1] Diantara adab dalam berdoa : Mengawali dengan memuji Allah.

Allah ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“ Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu” (Al-A’raf 180)

[2] Musuh paling dekat dengan kita ialah hawa nafsu.

Hawa nafsu itu sebagai ujian bagi manusia sekaligus pengangkat derajat manusia. Hal ini lah yang membuat manusia lebih mulia daripada malaikat. Karena malaikat hanya memiliki nafsu yang baik (nafsu untuk beribadah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya”

(HR. Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghîr, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shâhihah, no. 1496)

Alasan Berjihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling utama ialah :

  • Berjihad dengan senjata tidak akan terwujud kalau hawa nafsu belum tertunduk.
  • Jihad melawan orang kafir tidak setiap saat, tetapi melawan diri sendiri itu setiap saat.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan jenis jihad ditinjau dari obyeknya dengan menyatakan bahwa jihad memiliki empat tingkatan,

1)  Jihad memerangi hawa nafsu,

2)  Jihad memerangi syetan

3)  Jihad memerangi orang kafir

4)  Jihad memerangi orang munafik.

(Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khoiril ‘Ibaad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdulqadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H, Muassasat Al Risalah, Bairut 3/9).

Dalam keterangan selanjutnya Ibnul Qayyim menambahkan dengan jihad melawan pelaku kezhaliman, bid’ah dan kemungkaran.

[3] Makna kalimat tauhid :

لا معبود بحق الا الله

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah”

Sehingga seorang belum dikatakan bertauhid atau menjalankan isi LAA ILAA HA ILLALLAH, sampai meyakini satu-satunya sesembahan hanya Allah, serta menujukan segala ibadah/penyembahan, kepadaNya semata.

[4] Konsekuensi kalimat syahadat Muhammadan Rasulullah :

  • Taat kepada apa yang diperintahkan oleh Nabi
  • Menjauhi apa yang dilarang olehnya
  • Membenarkan kabar-kabar dari nabi baik yang ghaib maupun tidak
  • Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan mengikuti sunnahnya,

Amma ba’du : kalimat ini digunakan untuk memisahkan antara muqodimah dengan isi ceramah.

Biografi Penulis Matan Qawaidul Arba’

Syaikhul Islam dan Mujaddid dakwah tauhid : Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman at-Tamimi. Kuniah beliau Abul Husain. Beliau lahir di ‘Uyainah pada tahun 1115 H dan wafat di Dir’iyyah tahun 1206 H.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR Abu Dawud no. 4291 dan al-Hakim no. 8592)

Beliau dinilai oleh para ulama sebagai mujadid abad 12 Hijriyah.

Alasan Belajar Matan Ini

  1. Nasihat / rekomendasi dari para ‘Ulama untuk mempelajari kitab ini.
  2. Meneladani para Ulama dalam tahapan mereka belajar akidah.
  3. Ada bantahan atas syubhat (Argumen menyesatkan) intuk musyrikin zaman sekarang
  4. Ini merupakan ringkasan dari Kitab Kasyfu Syubhat (Kitab dalam bidang ilmu akidah yang di atas Qowaidul Arba’)

***

Matan Qawaidul Arba’

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ،

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (1). Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb (pemilik) ‘Arsy yang agung, agar Allah selalu membela (menolongmu) di dunia dan di akhirat (2), serta agar Allah menjadikan dirimu sebagai orang yang selalu diberkahi di manapun Engkau berada (3)”

Penjelasan

Sebab mengawali dengan basmalah :

  • Meneladani Al Quran, Para Rasul, dan Para Nabi
  • Mencontoh para ulama salafush sholih dalam menulis
  • Tabaruk dengan nama Allah yang Maha Mulia

Setelah basmalah, syaikh – semoga Allah mengampuni beliau – memulai dengan mendoakan kepada para penuntut ilmu seperti biasanya, ini menunjukkan betapa besar  kecintaan beliau kepada penuntut ilmu. Dan juga syaikh meminta kepada Allah agar mereka memperoleh setiap kebaikan.

Siapa Wali Allah ?

Penulis mendoakan para penuntut ilmu di kalimat pembuka buku yang barokah ini : Qawaidul Arba’, dengan  doa yang sangat indah :

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb (pemilik) ‘Arsy yang agung, agar Allah selalu membela (menolongmu) di dunia dan di akhirat.

Tersebut kata-kata أَنْ يَتَوَلَّاكَ An ya tawallaaka, yang berkorelasi dengan kata ولي Wali. Lantas siapakah para wali itu ?

Wali – Wali Allah adalah mereka yang bersatu dalam diri mereka iman dan takwa

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang beriman dan bertaqwa, dialah Wali Allah. Dalilnya:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ62  الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesunggunya wali – wali Allah itu, tidak ada ketakutan pada mereka ( di akhirat akan siksaan Allah) dan tidak (pula) mereka bersedih hati (atas kesenangan dunia yang terluputkan). (Yaitu) orang – orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”  (Yunus: 62-63).

Apabila iman dan takwa berada dalam satu kalimat, maka iman bermakna amalan hati dan takwa bermakna amalan badan.

Setiap muslim itu Wali Allah, tapi derajatnya berbeda – beda sesuai dengan kualitas iman dan takwanya. Semakin tinggi iman dan taqwa seseorang, semakin tinggi pula derajad kewaliaannya.

Adab Antara Guru dan Murid

Adab Murid kepada Guru : senantiasa mendoakan Sang Guru.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, 1/702.)

Imam Ahmad  bin Hanbal rahimahullah berkata :

“ Tidaklah aku sujud di muka bumi, melainkan kudoakan guruku (Imam asy – Syafi’i)”

Ciri seorang guru itu ikhlas: Bangga ketika muridnya menjadi lebih baik daripada dirinya.

Adab Guru kepada Murid : mendoakan para murid.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits ini menunjukkan bahwa yang memahamkan seorang terhadap agama adalah bukan guru, akan tetapi Allah Jalla wa ‘Alaa. Jadi, gurupun adabnya mendoakan muridnya. Jika guru mendoakan muridnya, berarti ia telah mengupayakan membuka dua pintu hidayah : hidayah taufiq (Hanya Allah yang mampu memberikannya) dan hidayah Irsyad (Usaha Manusia untuk mengajak kepada jalan hidayah).

Mutiara Faedah Tambahan

Menuntut ilmu meski sedikit tapi sistematis dan istiqamah, itu akan lebih banyak dalam mendapatkan ilmunya.

***

Referensi :

  1. Faedah Kajian “Qawaidul Arba’ “, bersama Ustadz Ahmad Anshori,Lc hafizhahullahu ta’ala
  2. Kitab Syarah Ushul Tsalatsah dan Qowaidul Arba’, karya Syaikh Haitsam bin Muhammad Jamil Sarhan
  3. Tafsir Muyassar
  4. Buku Al-Qawa’id Al-Arba’ penerbit Media Tarbiyah
  5. https://muslim.or.id/10774-jazakallah-khoiron-membalas-orang-lain-yang-berbuat-baik.html
  6. https://almanhaj.or.id/5063-melawan-hawa-nafsu-jihad-terbesar.html
  7. https://muslim.or.id/4041-memahami-arti-jihad.html
  8. https://tafsirweb.com/3336-surat-yunus-ayat-62.html
  9. https://tafsirweb.com/3337-surat-yunus-ayat-63.html

Baca Juga:


 

Dirangkum oleh Akhunal Fadhil : Andhika bin Qasim

Dikoreksi oleh :Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here