Baca pembahasan sebelumnya: Untuk Apa Aku Ada Di Bumi?

Donasi Wakaf

Bismillah…

CATATAN NGAJI QOWAIDUL ARBA’ (#7)

Kaidah Pertama :

القاعدة الأولى

أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى:  {قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [يونس:31].

Mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Pun demikian, hal itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).

Penjelasan 

Tauhid ada tiga macamnya :

  1. Tauhid rububiyah : Mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan Tuhan, seperti mencipta, mengatur alam, memberi rizki dll.
  2. Tauhid uluhiyyah : Mengesakan Allah dalam penghambaan atau peribadatan. Seorang hanya mempersembahkan penyembahannya kepada Allah.
  3. Tauhid Asma’ wa shifat : Mengesakan Allah pada nama dan sifatNya yang maha indah dan sempurna.

Dari ketiga jenis tauhid di atas, tauhid yang paling pokok adalah tauhid uluhiyyah. Inilah yang menjadi tolak ukur iman dan kafir, tauhid dan syirik. Dan jenis tauhid inilah yang menjadi materi pokok dan dominan dakwahnya seluruh Rasul. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, selama 13 tahun berdakwah di makkah, hanya menyampaikan tentang tauhid. Adapun 10 tahun sisanya di Madinah, beliau sampaikan hukum-hukum (syariat) islam lainnya.

Permusuhan antara kaum kafir quraisy dengan Nabi ialah, pada permasalahan tauhid uluhiyah (tauhid penyembahan), bukan pada tauhid rububiyah. Maka siapa yang mempersembahkan segala ibadah kepada selain Allah, maka ia jatuh pada kemusrikan, meski dia meyakini Allah Penciptanya.

Ada anggapan bahwa, seorang itu cukup dikatakan muslim atau bertauhid, ketika dia meyakini Allah pencipta, pengatur semesta dll, atau hanya meyakini tauhid rububiyah saja. Inilah yang mendasari penulis Qawaidul Arba’, menuliskan kaidah khusus yang menyanggah anggapan tersebut. Dalam sanggahannya, beliau mendasari dengan argumen berikut :

  • Orang musyrik jahiliyah yang Nabi perangi, ternyata juga meyakini tauhid rububiyah. Namun hal itu tidak menjadikan mereka otomatis muslim. Jika iya, tentu Nabi tidak akan memerangi. Kemudian penulis menyebutkan dalil informasi ini : QS. Yunus: 31 yang tertulis di atas. Dalil lainnya QS. Az-Zumar 38 :

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِيَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَٰشِفَٰتُ ضُرِّهِۦٓ أَوۡ أَرَادَنِي بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَٰتُ رَحۡمَتِهِۦۚ قُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُۖ عَلَيۡهِ يَتَوَكَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”

Mereka menjawab dengan penuh yakin, “Allah!”

Katakan “Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?”

Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.”

Argemun lainnya tambahan dari kami (Ahmad Anshori) :

  • Iblis pun meyakini tauhid rububiyah. Namun apakah kemudian Iblis disebut sebagai muslim apalagi orang yang betauhid (muwahhid)?! Tentu tidak!

Allah ta’ala berfirman,

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shod : 76)

Iblis meyakini Allah penciptanya. Namun itu tidak kemudian menjadikan Iblis bertauhid atau muslim.

Ini dalil bahwa, tolak ukur tauhid seorang adalah tauhid uluhiyah. Saat seorang mempersembahkan segala peribadahan/penyembahannya kepada Allah semata, saat itulah dia disebut sebagai orang yang bertauhid.

Adapun tauhid rububiyah, adalah sarana untuk sampai pada tauhid uluhiyah. Seorang yang telah meyakini Allah penciptanya, konsekensi selanjutnya adalah, menyembahNya semata.

Wallahua’lam bis showab.

Referensi :

– Kitab Syarah Ushul Tsalatsah dan Qowaidul Arba’, karya Syaikh Haitsam bin Muhammad Jamil Sarhan.

– Catatan Kajian Qawaidul Arba’ bersama : Ustadz Ahmad Anshori, Lc hafizhahullahu ta’ala

Baca Juga: Kemunculan Dajjal dan Pentingnya Ngaji Tauhid


Dirangkum oleh Akhunal Fadhil : Andhika bin Qasim

Editor : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here