Kurban Sekalian Akikah Bolehkah?

Donasi Wakaf

Bismillah…

Menggabung dua niat dalam satu ibadah, diistilahkan para ulama dengan “At-Tasyrik Fin Niyyah“. Ketentuan menggabung niat-niat ibadah, pernah kami bahas di sini :

Terkait boleh tidaknya menggabungkan kurban dan akikah, ada dua pendapat ulama dalam masalah ini :

Pendapat pertama, tidak boleh dan tidak sah.

Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad.

Argument mereka adalah :

– status kedua ibadah ini maqsudah li dzatiha (dituju oleh syari’at). Sehingga masing-masing tidak bisa mewakili yang lain. Kurban tidak bisa mewakili akikah, demikian sebaliknya.

– sebab kedua ibadah itu berbeda.
Sehingga tidak dapat digabungkan. Sama seperti sembelihan kambing untuk yang hajinya tamattu’, dengan sembelihan kambing untuk membayar fidyah karena melanggar larangan ihram, tidak bisa digabungkan.

Pendapat kedua, boleh.

Pendapat ini dipilih oleh Mazhab Hanafi, salah satu riwayat dari imam Ahmad, Imam Hasan Al-Basri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah.

Dasarnya adalah :

tujuan dari dua ibadah ini sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan. Sehingga bisa digabungkan. Sebagaimana tahiyyatul masjid bagi yang baru masuk masjid, bisa digabung sekalian dengan sholat wajib.

(Lihat : https://islamqa.info/amp/ar/answers/106630)

Mana Pendapat yang Kuat ?

Tampaknya pendapat pertama lebih kuat, karena pertimbangan berikut :

Akikah dan kurban, adalah ibadah yang masing-masing berstatus maqsudah bi dzatiha; yakni keduanya berdiri dengan niat khusus atau keduanya dituju secara pokok dalam perintah syariat. Sehingga tidak bisa digabungkan.

Syekh Muhammad bin Mukhtar As-Syinqithi -hafidzohullah- mengatakan saat beliau menjelaskan “Zad Al-Mustaqni’ “,

لا يجزئ أن يجمع بين نيتين؛ لأن العقيقة مقصودة، والأضحية مقصودة، ولذلك لا يحصل الاندراج، فالأضحية مقصودة لدى الشرع، ولذلك قال صلى الله عليه وسلم: (من ذبح قبل الصلاة فليذبح مكانهاأخرى)فكل مكلف قادر مطالب أن يذبح ذبيحة خاصة، شعيرة لهذا العيد، وسنة بقصد، بمعنى أنها مقصودة. وأما العقيقة فالنبي صلى الله عليه وسلم بين أنها متعلقة بالولد، فقال: (كل مولود مرهون بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه) فهذا يدل على أن الشرع قصد أن يُذبح عن الغلام، وأن يعق عنه، وهذا لا يحصل فيه الاندراج، فلم يصح الجمع بين النيتين

“Dua ibadah ini tidak cukup dilakukan dengan menggabungkan dua niat (tasyrik). Karena akikah adalah ibadah yang maqsudah bi dzatiha. Dan kurban juga sebagai ibadah yang maqsudah bi dzatiha. Oleh karenanya tak bisa dilakukan penggabungan.

Kurban ibadah yang maqsudah bi dzatiha, karena Nabi ﷺ bersabda,

من ذبح قبل الصلاة فليذبح مكانها أخرى

Siapa yang menyembelih kurban sebelum sholat id, maka hendaknya dia ganti sembelihannya dengan sembelihan lain.

Tentang akikah, Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa ibadah ini berkaitan dengan kelahiran anak,

كل مولود مرهون بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه

Setiap anak yang terlahir tergadai dengan akikahnya. Di umur ke tujuh hari, sembelihkanlah akikah untuknya.

Ini menunjukkan bahwa syariat secara pokok menunjukan sembelihan akikah untuk anak laki-laki. Seperti ini tidak bisa digabungkan. Sehingga tidak sah menggabungkan dua niat kedua ibadah tersebut.” (https://al-maktaba.org/book/32577/6740)

Kemudian dua ibadah ini memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa digabungkan. Kurban sebabnya adalah tibanya hari raya idul Adha. Sementara akikah sebabnya ungkapan syukur atas kelahiran anak.

Wallahua’lam bis showab.

Hamalatul Quran Yogyakarta, 02 Dzulqo’dah 1441 H


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Artikel : TheHumairo.com

Baca juga :

***

Saat ini Anda bisa berkurban dari rumah saja, bersama lembaga penyalur kurban terpercaya insyaAllah; Baitul Mal Nur Ramadhan. Cukup klik gambar :

Kurban bersama Nur Ramadhan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here